Pemberdayaan Wakaf, Solusi Krisis Ekonomi

Saat ini, krisis ekonomi melanda dunia. Pada awal bulan Oktober yang lalu, pasar bursa Amerika Serikat, Wall Street, mengalami kepanikan akibat jatuhnya harga-harga saham. Kejadian ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah pasar modal AS, indeks saham gabungan pasar bursa Dow Jones turun lebih dari delapan persen dalam sehari, diikuti rontoknya indeks-indeks raksasa lainnya pada angka yang tidak rasional, baik di level nasional Amerika maupun dunia seperti Nashdaq, Hangseng dan lain-lain. Hal ini secara signifikan turut mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Indonesia pun tidak terlepas dari krisis ini. Para investor di Bursa Efek Indonesia melakukan penjualan missal secara besar-besaran karena khawatir terhadap memburuknya perekonomian dunia. Sangking paniknya, sampai sampai pihak BEI menghentikan perdagangan saham pada hari Rabu, 8 Oktober 2008. Kejadian ini pertama kali terjadi sepanjang sejarah, transaksi dihentikan di tengah jalan karena penurunan harga yang dinilai tidak wajar Investor domestic pun panik karena pihak investor asing melepas aset-aset rupiahnya untuk membeli dolar AS. Lebih-lebih lagi, ada rekomendasi negatif dari JP Morgan Chase & Co, salah satu bank terbesar AS, yang mengeluarkan edaran untuk menjauhi surat utang Indonesia. Sehingga para pelaku pasar di Indonesia bertambah semakin panik. Dari kondisi tersebut, investor yang telah menanamkan investasinya di berbagai perusahaan di Indonesia mulai terlihat, cepat atau lambat, menarik dananya secara besar-besaran. Hal ini tentulah berdampak terhadap stabilitas perekonomian nasional yang saat ini sedang galak-galakkan menarik minat investor yang sebanyak-banyaknya dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan mengurangi jumlah pengangguran. Meski goncangan ekonomi Amerika Serikat tidak berpengaruh langsung terhadap stabilitas perekonomian Indonesia, namun karena krisis keuangan AS telah mulai merambah pada level dunia, maka mau tidak mau, suka tidak suka, perekonomian Indonesia dipastikan terkena imbas, khususnya bagi para pelaku pasar yang memiliki saham di berbagai bursa saham di Amerika dan atau yang terkait dengannya. Jika akhirnya benar-benar terjadi bahwa para investor, baik asing maupun dalam negeri menarik dananya secara besar-besaran, maka stabilitas perekoniam nasional tentu akan terganggu dengan banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang tutup. Akibatnya, hal itu akan mempengaruhi stabilitas ekonomi dan semakin menambah jumlah pengangguran karena PHK secara missal dari perusahaan-perusahaan yang tutup. Hal tersebut mengingatkan kita pada krisis ekonomi nasional yang pernah terjadi pada tahun 1998, dimana sektor keuangan hancur dan stabilitas perekonomian morat marit. Bahkan perekonomian Indonesia pada saat itu adalah yang terparah kehancurannya di bangding Negara-negara Asia lainnya yang telah terkena krisis ekonomi terlebih dahulu. Trauma inilah yang menghantui para pelaku pasar bursa di Indonedia yang jika tidak diantisipasi secara lebih tepat dan cepat, maka resesi ekonomi nasional yang lebih dahsyat akan segera terjadi. Bukan hal yang tidak mungkin, bangsa kita akan berada pada puncak krisis ekonomi yang dapat mengancam stabilitas politik dan keamanan yang sangat menakutkan dibanding krisis yang terjadi pada 1998 silam. Oleh karena itu, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan ancaman terhadap krisis ekonomi nasional yang menghantui stabilitas nasional, pemerintah harus mencari jalan alternatif untuk mengantisipasi guncangan ekonomi dengan membangun pondasi ekonomi kerakyatan yang memiliki basis konsep dan praktik yang mandiri, adil, fair dan menjunjung tinggi atas asas pemerataan kesejahteraan masyarakat yang lebih terpercaya. Salah satu jalan alternative membangun pondasi dan kekuatan ekonomi kerakyatan yang memiliki basis moral adalah meningkatkan peran kelembagaan ekonomi wakaf, selain tentu saja zakat. Jika zakat secara riil-konsepsional berwatak konsumtif (dapat dihabiskan), sedangkan wakaf merupakan asset tetap yang memiliki basis ideologis dalam Islam yang bersifat tetap (abadi), yang dapat dikelola dan dikembangkan secara optimal. Dikaji dalam tinjauan sejarah, ekonomi wakaf merupakan praktik ekonomi Islam yang asli. Karena wataknya yang lebih menekankan pada pengelolaan dan pengembangan komoditi dengan prinsip sosial yang sangat kuat. Wakaf adalah merupakan praktik ekonomi Islam yang mengedepankan pada keadilan, kejujuran, kepercayaan, kerja sama, transparansi, tolong menolong dan sebagainya, sehingga dapat dijadikan salah satu prinsip ekonomi yang selayaknya dikembangkan. Apalagi di saat gelombang resesi telah melanda system ekonomi kapitalis yang mengancam runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang sedang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: