Ijtihad Khalifah Umar bin Khattab ra yang kontroversial (bag.2)

 Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Berikut ini adalah sambungan dari tulisan bagian pertama yang telah terbit.

Perselisihan diantara para sahabat tersebut, yang menentang dan mendukung keputusan sang khalifah, berlangsung selama 3 hari. Sang khalifah berfikir untuk memperluas musyawarah yang tadinya hanya di kalangan Muhajirin, kini mencakup juga kalangan Anshar. Diundanglah 10 orang dari kalangan kaum Anshar. Kemudian berpidatolah Sang Khalifah ditengah-tengah mereka yang telah berkumpul dengan pidato yang indah dan bijaksana sebagai berikut :

(terlebih dahulu Khalifah membaca hamdalah dan memuji Tuhan sesuai dengan yang patut bagi-Nya, kemudian berkata), “Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian kecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam amanat mengenai urusan kalian yang dibebankan kepadaku. Sebab aku hanyalah salah seorang saja dari antara kalian … Dan kalian hari ini hendaknya membuat keputusan dengan benar, siapa saja yang hendak berbeda pendapat denganku, silakan ia berbeda, dan siapa saja yang hendak bersepakat denganku, silakan ia bersepakat … Aku tidaklah ingin kalian mengikuti begitu saja hal yang menjadi kecenderunganku ini … Di tangan kalian ada Kitab Allah yang menyatakan kebenaran … Dan demi Tuhan, kalau aku pernah menyatakan suatu perkara yang kuinginkan, aku tidak menginginkannya kecuali kebenaran.”

Kaum Ansar berkata : “Bicaralah, dan kami semua akan mendengarkan, wahai Amir al-Mu’minin.”

Khalifah Umar : “Kalian telah mendengar pembicaraan mereka, kelompok yang menuduhku berbuat zhalim, berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar-benar berlindung kepada Allah dari melakukan kezhaliman … Jika aku telah berbuat zhalim kepada mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadi milik mereka dan aku memberikannya kepada orang lain, maka benar-benar celakalah diriku … Tetapi aku melihat bahwa tidak ada lagi sesuatu (negeri) yang dibebaskan sesudah negeri Khusru (Persia), dan Allah pun telah merampas untuk kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanah pertanian mereka. Maka aku bagi-bagikanlah semua kekayaan (yang bergerak) kepada mereka yang berhak, kemudian aku ambil seperlimanya, dan aku atur menurut aturan yang telah digariskan oleh Allah, dan aku sepenuhnya bertanggungjawab atas pengaturan itu … Tetapi aku berpendapat untuk menguasai tanah-tanah pertanian dan aku kenakan pajak atas para penggarapnya, dan mereka berkewajiban membayar jizyah sebagai fay’ untuk orang-orang Muslim, untuk tentara yang berperang serta anak turun mereka, dan untuk generasi yang datang kemudian … Tahukah kalian pos-pos pertahanan itu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal menetap. Tahukah kalian, negeri-negeri besar seperti Syam, al-Jazirah (Lembah Mesopotamia), Kufah, Basrah dan Mesir? Semuanya itu harus diisi dengan tentara dan disediakan perbekalan untuk mereka. Dari mana mereka mendapat perbekalan itu jika semua tanah pertanian telah habis dibagi-bagi?”

Semua yang hadir: “Pendapat yang benar ialah pendapatmu. Alangkah baiknya apa yang kau katakan dan lihat itu. Jika pos-pos pertahanan dan kota-kota itu tidak diisi dengan personil-personil, serta disediakan bagi mereka perbekalan mereka, maka tentulah kaum kafir akan kembali ke kota-kota mereka.”

Kemudian terlintas dalam benak ‘Umar suatu cahaya seperti biasanya jika kebenaran datang ke lisan dan hatinya, lalu berkata:

“Sungguh telah kudapatkan argumen dalam Kitab Allah, ‘Sesuatu apa pun yang dikaruniakan Allah sebagai harta rampasan untuk Rasul-Nya dari penduduk negeri-negeri (yang dibebaskan) adalah milik Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang terlantar dalam perjalanan, agar supaya tidak berkisar diantara orang-orang kaya saja dari kamu. Maka apa pun yang diberikan Rasul kepadamu sekalian hendaklah kamu ambil, dan apa pun yang Rasul melarangnya untuk kamu hendaklah kamu hentikan. Dan bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah itu keras dalam siksaan.'”

“Selanjutnya,” kata ‘Umar, “Allah berfirman, ‘Dan bagi orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin yang diusir dari rumah-rumah dan harta kekayaan mereka, guna mencari kemurahan Allah dan Ridla-Nya, serta membantu Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.'”

“Kemudian,” kata ‘Umar lagi, “Allah tidak rela sebelum Dia mengikutsertakan orang-orang lain dan berfirman, ‘Dan mereka (kaum Ansar) yang telah bertempat tinggal di negeri (Madinah) serta beriman sebelum (datang) mereka (kaum Muhajirin); mereka itu mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan tidak mendapati dalam dada mereka keinginan terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang yang berhijrah itu, bahkan mereka lebih mementingkan orang-orang yang berhijrah itu daripada diri mereka sendiri meskipun kesusahan ada pada mereka. Barangsiapa yang terhindar dari kekikiran dirinya sendiri, maka mereka itulah orang-orang yang bahagia.'”

“Firman ini,” jelas Sang Khalifah, adalah khusus tentang kaum Ansar. Kemudian Allah tidak rela sebelum menyertakan bersama mereka itu orang-orang lain (dari generasi mendatang), dan berfirman, ‘Dan orang-orang yang muncul sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) itu semuanya berdo’a: ‘Oh Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman, dan janganlah ditumbuhkan dalam hati kami perasaan dengki kepada sekalian mereka yang beriman itu. Oh Tuhan, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang.'”

“Ayat ini,” kata Sang Khalifah, “secara umum berlaku untuk semua orang yang muncul sesudah mereka (kaum Muhajirin dan Ansar) itu, sehingga harta rampasan (fay’) adalah untuk mereka semua. Maka bagaimana mungkin kita akan membagi-baginya untuk mereka (tentara yang berperang saja), dan kita tinggalkan mereka yang datang belakangan tanpa bagian? Kini menjadi jelas bagiku perkara yang sebenarnya.” Demikian yang dikatakan oleh Khalifah Umar).

Tentu dapat kita simpulkan bahwa pemikiran Khalifah tersebut adalah sangat cermat terutama dalam hal sosial dan ekonomi. Pemikiran tersebut agar harta kekayaan tidak hanya menumpuk di tangan sekelompok orang saja, karena jika tanah-tanah pertanian hasil rampasan perang tersebut yang jumlah berpuluh-puluh hektar diserahkan kepada sekelompok tentara dan bawahannya, tentu akan menumbuhkan sejumlah orang kaya dengan harta benda yang melimpah ruah namun peredaran harta tersebut hanya akan berpusat di kalangan mereka saja yang sudah barang tentu akan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi serta moral yang tidak terpuji.

Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa Khalifah Umar memandang harta sebagai hak semua orang dan beliau menempuh kebijaksanaan tersebut dengan memperhitungkan kemaslahatan generasi mendatang. Itu adalah pandangan yang cermat dan mendalam, yang dalam al-Qur’an diketemukan sandaran yang sangat kuat.

Di dalam kebijakannya tersebut juga terdapat tindakan sejenis nasionalisasi tanah-tanah pertanian atau yang mendekati itu, yaitu ketika ia mencegah sekelompok orang-orang Muslim sezamannya dari menguasai tanah-tanah yang dikaruniakan Tuhan sebagai harta rampasan (fay’), dan ia tidak bergeser dari pendapatnya untuk menjadikan tanah-tanah itu milik negara, yang dari hasil pajaknya ia membuat anggaran untuk tentara, dan dengan hasil itu pula ia menanggulangi kesulitan-kesulitan di masa depan.

Hal ini menunjukkan luas dan keluwesan pemikiran serta daya cakup Islam yang hanif (secara alami selalu mencari yang benar dan baik) terhadap masalah-masalah yang pelik … Semoga Allah memberi kita petunjuk untuk menggali dari agama kita berbagai kekayaan, hal-hal mendasar dan hakiki.

Diantara banyak masalah ijtihad dan kejadian yang mucul di zaman para sahabat setelah wafat Nabi, masalah yang dihadapi Khalifah Umar ini adalah salah satu yang paling menonjol ialah masalah pembagian tanah-tanah (pertanian) yang telah dibebaskan oleh tentara (Islam) melalui peperangan di Irak, Syam (Syria) dan Mesir. 

Dalam nash al-Qur’an telah disebutkan dengan jelas tanpa kesamaran sedikit pun di dalamnya bahwa seperlima harta rampasan (perang) harus dimasukkan ke baitulmal, dan harus diperlakukan sesuai dengan pengarahan yang ditentukan oleh ayat suci. Allah telah berfirman dalam Surah al-Anfal yang artinya, “Dan ketahuilah olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamu rampas (dalam perang) dari sesuatu (harta) maka seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang terlantar dalam perjalanan (ibn al-sabil).”

Sedangkan yang selebihnya ( 4 per 5 ) dibagi sama antara mereka yang merampas (dalam perang) itu. Sebagai pengamalan ketentuan yang bisa dipahami dari ayat suci tersebut dan praktek Nabi s.a.w. ketika beliau membagi (tanah pertanian) Khaybar kepada para tentara.

Maka, sebagai pengamalan al-Qur’an dan al-Sunnah, datanglah para perampas (harta rampasan perang) itu kepada ‘Umar ibn al-Khaththab, dan meminta agar ia mengambil seperlima daripadanya untuk Allah dan orang-orang yang disebutkan dalam ayat (dimasukkan dalam bayt al-mal), kemudian membagi sisanya kepada mereka yang telah merampasnya dalam perang. (Kemudian terjadi dialog berikut): 

Khalifah berkata : “Lalu bagaimana dengan orang-orang Muslim yang datang kemudian? yang mendapati tanah-tanah pertanian beserta garapannya telah habis terbagi-bagi, dan telah pula terwariskan turun-temurun dan terkuasai? Itu bukanlah pendapat (yang baik)”.

‘Abdurrahman ibn ‘Awf, menyanggah ‘Umar: “Lalu apa pendapat (yang baik)? sedangkan tanah pertanian dan garapannya itu tidak lain adalah harta rampasan (perang) yang diberikan Allah kepada mereka!”

Khalifah menjawab: “Itu tidak lain adalah katamu sendiri, dan aku tidak berpendapat begitu. Demi Tuhan, tidak akan ada lagi negeri yang dibebaskan sesudahku yang di situ terdapat kekayaan besar, bahkan mungkin akan menjadi beban atas orang-orang Muslim. Jika aku bagi-bagikan tanah-tanah di Irak beserta garapannya, tanah-tanah di Syam beserta garapannya, maka dengan apa pos-pos pertahanan akan dibiayai? Dan apa yang tersisa untuk anak cucu dan janda-janda di negeri itu dan ditempat lain dari kalangan penduduk Syam dan Irak?” (bersambung ke bag.3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: