Ijtihad Khalifah Umar bin Khattab ra. Yang Kontroversial (Bag.1)

Bontang, Sabtu.

Dalam sejarah perjalanan agama Islam, Umar bin Khattab ra terkenal sebagai Khalifah yang kedua setelah Abu Bakar Asshiddiq ra. Umar bin Khattab ra dikenal sebagai orang yang pandai, cerdik dan jenius namun juga penuh dengan kontroversi.

Kadangkala ijtihad yang diambil oleh beliau terkait dengan ajaran agama, mendapat tantangan dari para sahabat yang lainnya karena menurut mereka, beliau dianggap mengambil sebuah keputusan hanya berdasarkan sosial dan politik dan tidak berdasarkan perintah dalam agama.

Salah satu contoh kasus adalah tentang tanah-tanah pertanian hasil rampasan perang ketika pasukan muslimin membebaskan Syam, Irak, Persia dan Mesir.

Dalam kasus ini, Sang Khalifah mengambil keputusan menyita tanah-tanah pertanian tersebut untuk negara dan membiarkan tanah-tanah tersebut tetap dikelola oleh pemiliknya semula kemudian para pengelola tanah-tanah negara tersebut diwajibkan membayar pajak ke negara yang hasil dari pajak tersebut dibagi-bagikan kepada rakyatnya setelah disisihkan terlebih dahulu untuk para tentara yang berada di perbatasan wilayah-wilayah yang dibebaskan tadi.

Dengan keputusan ini para sahabat menentang. Mereka menginginkan agar tanah-tanah tersebut dibagikan kepada mereka karena mereka berpendapat bahwa tanah-tanah tersebut adalah pemberian Allah swt kepada mereka sebagai hasil rampasan perang (fay).

Adapun yang menjadi titik pandangan Sang Khalifah adalah bahwa negeri-negeri yang dibebaskan tersebut memerlukan tentara untuk menjaga wilayah tersebut dan dengan mengutus tentara untuk menjaga daerah tersebut tentulah memerlukan biaya. Nah, jika tanah-tanah tersebut dibagi-bagi, bagaimana cara negara membiayai tentara-tentara yang akan berjaga disana? Alasan lainnya bahwa, Sang Khalifah tidak menginginkan kalau harta kekayaan itu menumpuk hanya pada beberapa ribu kaum muslimin saja karena hal itu akan mengakibatkan harta kekayaan hanya menumpuk kepada beberapa ribu kaum muslimin saja yang umumnya adalah para tentara sehingga tidak akan ada lagi bagian untuk mereka yang masuk Islam kelak. Hal ini akan menimbulkan akibat : 1. Harta menumpuk di pihak tertentu ; 2. Kemiskinan yang terus berlanjut di pihak lain. Itulah hal yang membuat nurarni Sang Khalifah berani mengambil keputusan tersebut.

Dan keputusan ini mendapat dukungan dari Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib (yang keduanya berturut-turut juga menjadi khalifah ketiga dan keempat).

Namun dalil dari Kitab dan Sunnah berpihak pada mereka yang menentang keputusan Sang Khalifah tersebut. Terutama Bilal, salah seorang sahabat yang amat disukai Nabi. Dia menentang keras keputusan yang diambil Sang Khalifah tersebut.

Hal ini menyesakkan dada Khalifah dan menyusahkannya, sehingga karena susah dan sedihnya, Sang Khalifah berdo’a kepada Allah swt : ” Ya Allah, lindungilah aku dari Bilal dan kawan-kawan “. Dan akhirnya memang Allah memberika pertolongan kepadanya dengan memberikan kepadanya paham keagamaan yang mendalam yang meneranginya dengan cahaya dari celah baris-baris Kitab Suci dan dengan argumen yang unggul, semua golongan tunduk kepada kekuatannya. (bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: